PERILAKU DZKIR: KHOLIQ-MAKHLUQ-AKHLAQ

Sutrisno Nurhumaedi
Dalam batasan tertentu, dzikir dilihat sebagai The Repetitic Magic Power, yaitu kekuatan ajaib dari penyebutan sesuatu yang berulang-ulang. Dalam batasan itu, perilaku dzikir dapat ditemui pada tradisi agama manapun, bahkan di luar tradisi agama, dzikir kerap kali dipraktekkan.

Sebagai makhluk dengan kemampuan serba terbatas, manusia membutuhkan kekuatan eksternal yang berfungsi sebagai sugesti/pendorong untuk mengokohkan niat/tekad. Oleh karenanya, ada orang-oarang yang merapal kata, frasa, atau kalimat tertentu sebagai mantra. Dalam kajian Linguistik, bahasa memang difungsikan, salah satunya, sebagai mantra.

Pada kenyataannya, dzikir memang berfungsi memberikan kekuatan bagi pelakunya atau paling tidak membawa pelakunya pada suatu kesadaran tertentu. Pembuktian oleh rasa itulah yang menyebabkan dzikir seringkali digunakan oleh, mulai dari tarekat atau komunitas agama sampa komunitas bisnis seperti MLM atau pelatihan-pelatihan motivasi. Kenyataan itu menunjukkan bahwa dzikir adalah perilaku yang sangat manusiawi.

Apabila kita menengok sejarah, maka kita menemukan seorang sahabat Rosulullah saw, Bilal bin Robah, telah merapal sebuah kata: Ahad…Ahad…Ahad. Dengan kata tersebut, dia beroleh kesanggupan melalui siksaan yang begitu berat yang dilakukan oleh kafir Quraisy. Dengan kata tersebut dia berusaha mempertahankan keyakinannya. Saya teringat masa kanak-kanak, dulu saya pernah merapal sebuah mantra juga: saya tidak takut. Dengan mantra tersebut saya mendapatkan keberanian melalui jalan gelap yang disitu terdapat pohon besar yang dianggap angker.

Dari sini kita bisa berkata bahwa berdzikir adalah menyebut atau mengingat sesuatu, dengan berulang-ulang, sehingga memberikan dampak psikologis kepada pelakunya. Dampak psikologis itu dapat dilihat dari tampak luar keadaan dirinya dan tingkah lakunya. Ambillah Bilal bin Robah sebagai contoh atau nabi Yakub as, seperti yang diceritakan dalam Al-Qur’an: “Mereka berkata: Demi Allah, kamu senantiasa mengingat Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.” (QS. 12:85).

Nah sekarang, perhatikan keadaan kita sendiri. Apakah dzikir yang kita lakukan telah berdampak secara psikologis yang dapat dilihat dari tampak luar keadaan diri atau perilaku? Jika tidak, maka jangan berkata: saya telah berdzikir. Yang kita lakukan hanyalah mengigau, yaitu menyebut-nyebut sesuatu tanpa sadar.

Lalu, bagaimana seharusnya seorang Muslim berdzikir? Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan mengingat nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. 33:41). Dari ayat itu kita mendapatkan tiga syarat dzikir, yaitu:
1) Dzikir harus dilakukan dalam keadaan beriman. Iman adalah serangkaian pengetahuan yang memberikan kesadaran untuk berbuat dan pada akhirnya menimbulkan Cinta.
2) Yang menjadi obyek dzikir adalah Allah: nama-nama-Nya, ajaran-ajaran-Nya, dan ciptaan-ciptaan-Nya.
3) Dzikir dilakukan berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan. Dengan begitu, seluruh anggota tubuh, hati dan pikiran tidak perlu lagi dipaksa untuk berdzikir. Mereka akan senantiasa berdzikir tanpa batasan waktu dan tempat.

Salam,

Advertisement

One Response to PERILAKU DZKIR: KHOLIQ-MAKHLUQ-AKHLAQ

  1. abdul basith says:

    Subhanallah…sungguh menyentuh.. hal ini pernah juga saya baca di buku-buku islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.