Andai ia terus bernyanyi ….. Mc Jagger atau Axl Rose gak pernah melegenda

Laki-laki itu adalah imam Malik ibnu Anas, salah seorang di antara empat imam yang agung, yang lahir dan besar di Madinah, serta tidak pernah berkeinginan untuk meninggalkannya selamanya, betapa pun besarnya godaan-godaan yang dihadapinya. Sebab, sama sekali tidak ada yang lebih utama dan lebih mulia daripada tempat yang di bawah tanahnya terdapat jasad Rasulullah saw.

Uniknya, sebenarnya Malik dapat menjadi sebuah nama besar dalam dunia musik dan lagu Arab, seandainya tidak karena ibunya yang menasehatinya, menghalanginya, dan memintanya agar menjauhi jalan ini; bukan sebagai penetapan dari sang ibu bahwa lagu adalah haram, sebagaimana diyakini oleh sebagian orang, tapi karena tampaknya dia telah merasakan bahwa dalam diri putranya terdapat akal yang lebih kuat beberapa tingkat daripada suaranya, dan melihat bahwa perjalanan putranya ke tempat yang di dalamnya kemudian dia berada memiliki signifikansi yang besar.

Sang imam adalah pemilik suara yang merdu dan bagus, wajah yang tampan, dan penampilan yang lumayan. Dia membuat Anda mencintai agama, bukan membuat Anda lari darinya sebagaimana kadang terjadi. Dia pernah mencoba untuk menjadi penyanyi dan mendendangkan lagu milik penyanyi Irak yang terkenal. Dan seandainya dia terus berada di jalur musik, niscaya dia akan menyaingi Ishaq al-Mushili dalam sejarah, tapi kita akan kehilangan sebuah akal yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang Arab dan kaum muslimin dari dulu hingga sekarang.

Laki-laki ini telah mencapai puncak ilmu dan keagungan dalam satu waktu. Tidak ada lagi keagungan dan penghormatan setelah ungkapan yang terkenal ini,
“Tidak ada yang memberi fatwa, sedang Malik ada di Madinah.” Artinya, apabila dia ada, maka Anda tidak layak untuk bertanya kepada seorang pun di antara manusia selain dia.

Dan dia mampu menjadi seorang yang diplomatis dalam fatwa-fatwanya, dalam pengertian bahwa dia tidak membentur apa dan siapa yang telah ada, sampai Allah menetapkan perkara yang pasti terjadi. Pada suatu hari, mereka bertanya kepadanya,
“Apakah orang-orang yang memberontak kepada sultan dan penguasa boleh diperangi?” Dia berpikir sejenak, lalu menjawab dengan cepat bahwa hal itu boleh, apabila sang penguasa adalah orang seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pertanyaan tersebut tetap menggantung.
Maka sang penanya bertanya kepadanya sekali lagi,
“Apabila dia tidak demikian?” Dia pun menjawab sambil mengalihkan perhatian si penanya dengan lemah lembut, “Wahai saudaraku, biarlah Allah membinasakan sebagian dari orang-orang zalim dengan sebagian dari mereka.”
Dia tidak menyukai kekerasan dan tidak menganjurkannya, tapi dia menyeru dengan cara yang baik dan dengan perkataan yang lembut, yang tidak melukai seorang pun tanpa justifikasi.

Tersisa bagi Anda untuk mengetahui bahwa dia tidak akan mencapai kedudukan itu, dan sosoknya tidak akan setinggi ini, seandainya dia tidak suka bekerja (ya’mal), lalu bekerja, lalu bekerja. Dan Anda dapat meletakkan mim setelah lam (ya’lam: mengetahui, belajar) dan mengulangi kata kerja ini seribu satu kali, sebagaimana yang dilakukannya secara praktis.

Mereka menjadi tokoh dengan amal (kerja) dan ilmu yang saling bertautan, bukan dengan sesuatu yang lain di antara apa yang Anda lihat

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.