Kisah Ahli Tahajud : Kisah Pedang Malam Al Fatih (Sang Pembuka)

April 29, 2009

Islam menaklukkan eropa, dipimpin oleh seorang pemuda yang sangat saleh, berusia 21 tahun. Namnya Muhammad Al Fatih kesuksesan hidup ia raih, dikenang jutaan manusia sepanjang abad. Harum nama Al Fatih berkat keshalehan, keberanian dan kemuliaan akhlaknya. Umurnya muda remaja semerbak wangi, 21 tahun. Sebagai jenderal beliau memimpin laskar islam menaklukkan benteng terkuat imperium Byzantium, Konstantinopel. Kota ini diubahnya menjadi kota Istambul. Dari sini beliau menebarkan kasih sayang islam di bumi eropa.

Jika saudara bertanya siapakah yang berjasa sehingga kini benih islam tumbuh di jantung eropa, seperti Bosnia Herzegovina, misalnya? Jawabanya, sejarah tak pernah melupakan jasa orang orang turki yang gagah berani. Diantaranya Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun.

Apa rahasia dibalik semua kesuksesan beliau? Ternyata rahasianya beliau sangat kuat shalat malamnya yaitu tahajud. Bukankah Rosululloh SAW menegakkan shalat tahajud sepanjang malam dan setiap hari? Bukankah beliau Rosululloh SAW shalat tahajud merupakan kewajiban yang tak bisa beliau tinggalkan dalam setiap perjuanganya.

Jika sudara bertanya, apakah benar Muhammad Al Fatih sudah melakukan tindakan besar yang megubah sejarah peradaban dunia? Ya, dalam sejarah, hal ini tidak aneh. Bukankah sahabat Rosululloh SAW bernama Usamah juga menjadi panglima perang dalam usia 18 tahun. Sementara yang menjadi prajuritnya adalah Umar bin Khatab sahabat besar Rosululloh SAW. Ini menunjukkan betapa kualitas keimanan dan kekuatan ruhani Usamah menjadi salah satu ukuran yang dipertimbangkan Rosululloh SAW ketika menetapkan Usamah memimpin ekspedisi militer menghadapi kekuatan super power Romawi?

Bukankah dalam usia belasan tahun Usamah bin Ladin bergabung dengan Mujahidin Afganistan melawan super power Rusia. Bukankah dalam usia 17 tahun Ibnul Khatab, warga saudi arabia, (sebelum akhirnya menjadi komandan lapangan di ladang jihad Chechnya, dan menggapai syahid dalam usia 35 tahun April 2002) menerjunkan diri dengan teguh hati ke medan jihad Afghanistan dan mengurungkan niatnya melanjutkan kuliah di Universitas terkemuka di Amerika.

Namun Sang Pedang Malam, orang asia bernama Muhammad Al Fatih merontokkan super power Romawi pada 1453, agak unik. Beliau ahli shalat malam (tahajud), ahli qiyamul lail. Beliau selau kontak dengan energi terbesar di alam semesta ini, Allah SWT. Beliau selalu taqorrub, mendekatkan diri kepada Allah SWT, The Big Boss of Universe.

Sejak kecil Muhammad Al Fatih dididik oleh seorang wali. Beliau tumbuh menjadi remaja yang memiliki kepribadian unggul. Beliau jadi Sultan, dalam usia 19 tahun menggantikan sang ayah.

Bagaimana sifat Muhammad Al Fatih sehingga beliau mampu memetik keberhasilan dalam hidupnya dengan sangat efektif, merebut benteng Konstantinopel yang kokoh itu. “sifatnya tenang, berani, sabar menanggung penderitaan, tegas dalam membuat keputusan dan mempunyai kemampuan mengawasi diri (self control) yang luar biasa. Kemampuanya dalam memimpin dan mengatur pemerintahan sangat menonjol.”

Muhammad Al Fatih sangat tegas terhadap musuh. Namun, lembut qolbunya bagai selembar sutra dalam menghadapi rakyat yang dipimpinnya. Kebiasaan Sultan Muhammad Al Fatih, unik. Beliau selalu berkeliling di malam hari, memeriksa kondisi teman dan rakyatnya. Sengaja beliau berkeliling untuk memastikan agar rakyat dan kawan-kawanya menegakkan shalat malam dan qiyamullail.

Qiyamul lail, shalat tahajud, inilah senjata utama Muhammad Al Fatih dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Inilah Pedang Malam, yang selalu diasahnya dengan tulus ikhlas dan khusuk, ditegakkan setiap malam. Dengan pedang malam ini timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad Al Fatih. Sjarah mencatat Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun berhasil menggapai sukses besar, menerobos benteng Konstantinopel, setelah dikepung beberapa bulan maka takluklah Konstantinopel.

Suatu hari timbul soal ketika pasukan islam hendak melaksanakan shalat jum’at yang pertama kali di kota itu. “Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?” tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri ! lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri. Kemudian beliau bertanya. “ Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajin lima waktu, silakan duduk!!” Subhanalloh……!!! Maha suci Allah ! tak seorangpun pasukan islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Apa artinya? Itu berarti, tentara islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari ini, tak seorangpun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun mereka melalaikan shalat fardhu. Luar biasa…..!!!!!!

Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rowatib?kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!!!”. Sebagian lainya segera duduk. Artinya, pasuka islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunah setelah maghrib, dua roka’at sebelu shubuh dan shalat rowatib lainaya. Namun ada yang pernah meninggalkanya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, pasukan islam Al Fatih.

Dengan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukanya Muammad Al Fatih kembali berseru lalu bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!!” apa yang terjadi…???? Terlukislah pemandangan yang menakjubkan sejarawan barat dan timur. Semua yang hadir dengan cepat duduk!!”Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia???dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng super power Byzantium Konstantinopel. Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tak kosong semalampun.

Sejak abad kedelapan sahabat Rosululloh berusaha merebut benteng ini. Salah satunya Abu Ayyub Al Anshari namun gagal. Baru setelah enam abad kemudian benteng itu berhasil direbut dibawah pimpinan Muhammad Al Fatih.Karena jasanya inilah beliau diberi gelar Al Fatih (sang pembuka) yaitu membuka kota Byzantium yang dulunya adalah Konstantinopel. Beliau adalah seorang pemberani, ahli strategi militer, juga istiqomah dalam shalat tahajudnya.

Itulah sebuah kisah sejarah yang sungguh indah dalam bungkai ketakwaan kepada Allah SWT. Kisah Pedang Malam yang merupakan rahasia sukses dari seorang pribadi penggubah sejarah, bernama Muhammad Al Fatih, orang asia asal Turki, yang baru berusia 21 tahun. Shalat Tahajud merupakan modal yang sangat penting untuk membangun kekuatan ruhiyah dalam kesuksesan Al Fatih dikemudian hari. Sehingga islam jaya, berpendar-pendar cahayanya selama 500 tahun di bumi eropa sejak abad ke-15. Semuanya berasal dari Pedang Malam Al Fatih yang amat begitu luar biasa.

Maa syaaAllah, Luar biasa……Sultan Muhammad Al Fatih (Sang Pembuka)……!!!!

Sumber:dieni.blog.friendster.com/


Andai ia terus bernyanyi ….. Mc Jagger atau Axl Rose gak pernah melegenda

April 29, 2009

Laki-laki itu adalah imam Malik ibnu Anas, salah seorang di antara empat imam yang agung, yang lahir dan besar di Madinah, serta tidak pernah berkeinginan untuk meninggalkannya selamanya, betapa pun besarnya godaan-godaan yang dihadapinya. Sebab, sama sekali tidak ada yang lebih utama dan lebih mulia daripada tempat yang di bawah tanahnya terdapat jasad Rasulullah saw.

Uniknya, sebenarnya Malik dapat menjadi sebuah nama besar dalam dunia musik dan lagu Arab, seandainya tidak karena ibunya yang menasehatinya, menghalanginya, dan memintanya agar menjauhi jalan ini; bukan sebagai penetapan dari sang ibu bahwa lagu adalah haram, sebagaimana diyakini oleh sebagian orang, tapi karena tampaknya dia telah merasakan bahwa dalam diri putranya terdapat akal yang lebih kuat beberapa tingkat daripada suaranya, dan melihat bahwa perjalanan putranya ke tempat yang di dalamnya kemudian dia berada memiliki signifikansi yang besar.

Sang imam adalah pemilik suara yang merdu dan bagus, wajah yang tampan, dan penampilan yang lumayan. Dia membuat Anda mencintai agama, bukan membuat Anda lari darinya sebagaimana kadang terjadi. Dia pernah mencoba untuk menjadi penyanyi dan mendendangkan lagu milik penyanyi Irak yang terkenal. Dan seandainya dia terus berada di jalur musik, niscaya dia akan menyaingi Ishaq al-Mushili dalam sejarah, tapi kita akan kehilangan sebuah akal yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang Arab dan kaum muslimin dari dulu hingga sekarang.

Laki-laki ini telah mencapai puncak ilmu dan keagungan dalam satu waktu. Tidak ada lagi keagungan dan penghormatan setelah ungkapan yang terkenal ini,
“Tidak ada yang memberi fatwa, sedang Malik ada di Madinah.” Artinya, apabila dia ada, maka Anda tidak layak untuk bertanya kepada seorang pun di antara manusia selain dia.

Dan dia mampu menjadi seorang yang diplomatis dalam fatwa-fatwanya, dalam pengertian bahwa dia tidak membentur apa dan siapa yang telah ada, sampai Allah menetapkan perkara yang pasti terjadi. Pada suatu hari, mereka bertanya kepadanya,
“Apakah orang-orang yang memberontak kepada sultan dan penguasa boleh diperangi?” Dia berpikir sejenak, lalu menjawab dengan cepat bahwa hal itu boleh, apabila sang penguasa adalah orang seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pertanyaan tersebut tetap menggantung.
Maka sang penanya bertanya kepadanya sekali lagi,
“Apabila dia tidak demikian?” Dia pun menjawab sambil mengalihkan perhatian si penanya dengan lemah lembut, “Wahai saudaraku, biarlah Allah membinasakan sebagian dari orang-orang zalim dengan sebagian dari mereka.”
Dia tidak menyukai kekerasan dan tidak menganjurkannya, tapi dia menyeru dengan cara yang baik dan dengan perkataan yang lembut, yang tidak melukai seorang pun tanpa justifikasi.

Tersisa bagi Anda untuk mengetahui bahwa dia tidak akan mencapai kedudukan itu, dan sosoknya tidak akan setinggi ini, seandainya dia tidak suka bekerja (ya’mal), lalu bekerja, lalu bekerja. Dan Anda dapat meletakkan mim setelah lam (ya’lam: mengetahui, belajar) dan mengulangi kata kerja ini seribu satu kali, sebagaimana yang dilakukannya secara praktis.

Mereka menjadi tokoh dengan amal (kerja) dan ilmu yang saling bertautan, bukan dengan sesuatu yang lain di antara apa yang Anda lihat


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.