Khalifah Umar pada masa kepemimpinannya pernah menggelar pertemuan dengan raky at nya di Hims negeri Syam, dalam pertemuan itu hadirlah Sa’id bin Amir gubernur Syam. Yang Umar memujinya karena kecintaan rakyat syam kepada gubernurnya yang sangat ringan tangan membantu mereka. Umar berkata,”Wahai rakyat syam, hari ini aku perkenankan kalian untuk mengutarakan unek-unek dan kekecewaan kalian kepada gubernurku Sa’id.”
Kemudian atas nama kelompok, seorang laki-laki angkat bicara,
“Kami mengeluhkan empat hal: pertama, ia hanya keluar untuk rakyatnya saat hari sudah siang; kedua, ia tidak melayani kami di malam hari; ketiga, setiap bulan ia libur dua hari dimana kami tak melihatnya sama sekali;keempat, sebenarnya bukan kesalahannya tapi cukup menggengu kami, sewaktu-waktu ia jatuh pingsan.” Lalu laki-laki itu duduk.
Khalifah Umar menunduk memohon kepada Allah,”Ya Allah, aku tahu bahwa ia (Sa’id) adalah hamba-Mu yang terbaik, maka janganlah Engkau belokkan firasatku ini.”
Kemudian Sa’id dipersilahkan untuk menjawab keluhan-keluhan tersebut, “Demi Allah, aku sangat benci untuk mengutarakan ini, kami tidak mempunyai pembantu rumah tangga, maka akulah yang mengaduk tepuk hingga menjadi roti untuk sarapan kami, kemudian aku berwudhu dan shalat dhuha, barulah setelah itu aku keluar menemui rakyatku. Sedangkan malam hariku kuperuntukkan untuk Allah, cukuplah siang hariku untuk rakyatku.” Umar merasa lega dengan jawaban atas dua keluhan. Kemudian Sa’id kembali melanjutkan,
“Mengenai keluhan dua hari liburku dalam sebulan adalah karena dalam dua hari itu aku harus mencuci pakaianku, dan pakaianku tidak banyak. Aku tidak leluasa untuk berganti pakaian. Aku mencucinya lalu menungunya sampai kering.”
“Tentang keluhan bahwa aku sering jatuh pingsan adalah ketika aku tinggal di mekkah dulu, aku melihat langsung bagaimana khubaib Al Anshari terbunuh. Tubuhnya disayat-sayat. Saat itu orang-orang Quraisy bertanya,’maukah kamu jika Muhammad saw menggantikanmu dan engkau bebas?” Khubaib menjawab,”Demi Allah aku tidak ingin berada di rumah bersama anak istriku menikmati kesehatan dan kelezatan hidup, sementara Rasulullah saw terkena musibah walau hanya tertusuk duri.’ Saat itu aku masih kafir, aku menyaksikan dengan mata kepala, dan aku tidak bergerak sedikitpun untuk menolong Khubaib. Karena itu aku sangat takut akan siksa Allah kelak, hingga aku jatuh pingsan.” Umar sangat terharu lalu merangkul Sa’id, dan mencium keningnya yang bercahaya.
Tidak hanya itu, masih banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari Sa’id ini. Suatu ketika, ada yang menasihatinya,”Berikanlah kelebihan harta itu untuk keperluan keluargamu dan istrimu.” Apa jawab Sa’id?, “Mengapa keluargaku dan istriku? Demi Allah, aku tidak akan melepas keridhaan Allah demi mementingkan kerabatku.”
Seringkali orang menasihatinya,”Berikanlah jatah belanja yang cuku untuk dirimu dan keluargamu. Nikmatilah hidup ini.” Tapi ia selalu menjawab,
“Aku tidak ingin tertinggal oleh rombongan pertama. Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,’Allah ‘Azza wa Jalla akan menghimpun manusia untuk dihadapkan di pengadilan-Nya. Maka orang-orang miskin dari orang-orang mukmin berdesak-desakan maju kedepan tak ubahnya bagai kawana burung merpati . lalu ada yang berseru kepada mereka,”Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan.” Mereka menjawab,”Kami tidak mempunyai apa-apa untuk dihisab.” Maka Allah berfirman,”Hamba-hamba-Ku ini benar, mereka masuk kesurga sebelum orang-orang lain masuk.”
Inilah salah satu wajah kepemimpinan di era kegemilangan Islam, lalu kalau boleh oleh pemerintah; marilah kita bandingkan wajah kepemimpinan kita dengan Sa’id adakah kemiripan? Terlalu jauh untuk membandingkannya dengan Rasulullah saw, kita bandingkan saja dengan Sa’id bin Amir ini yang namanya saja baru kita kenal.
