Bidadari Surga

Kita yang telah bersaksi dan menyerahkan diri kepada Allah dan dengan bangga mendeklarasikan keislaman kita, tentu berharap akan masuk surga seburuk apapun amalan kita, pasti kita mendambakannya. Surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai yang tak akan pernah kering dan dihiasi oleh bidadari yang apabila mereka menampakkan kecantikannya cahayanya sanggup menyinari bumi.

Adalah Sa’id bin Amir seorang gubernur Syam pada masa Khalifah umar yang sangat tergila-gila pada bidadari surga. Pada saat ia diangkat oleh Umar sebagai gubernur Syam ia diberangkatkan ke Hims ibukota Syam bersama istrinya yang sejak kecil terjaga kecantikannya, Umar juga membekalinya dengan harta yang selama ini tidak pernah dimiliki oleh Sa’id untuk keperluannya selama di Hims.

Sesampainya di Hims dan merasa nyaman, sang istri bermaksud untuk membelanjakan harta yang diberikan umar untuk membeli pakaian yang layak, keperluan rumah tangga, dan menyimpan sisanya. Tapi Sa’id berkata,”maukah kamu aku tunjukkan yang lebih baik dari itu? Kita sekarang berada di sentra bisnis paling ramai, pasar sangat ramai, dan usaha-usaha berjalan dengan lancar. Bagaimana kalau kita berinvestasi saja sehingga harta kita berkembang?”
Sang istri bertanya,”kalau rugi gimana?”
Sa’id menjawab,”Aku jaminannya.” Sang istri pun menyetujui.

Kemudian Sa’id pergi membeli sebagian keperluan hidup dari jenis yang paling sederhana, lalu sisa uangnya ia sedekahkan kepada anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang lebih membutuhkannya.

Hari pun berlalu dari waktu ke waktu sampai saatnya sang istri menanyakan tentang perniagaan mereka. Sa’id berkata,”bisnis kita sangat lancar dan keuntungan kita semakin banyak.” Sang istri mendengar jawaban itu, tapi hatinya tidak pernah menerimanya karena selama ia hidup bersama sang gubernur belum pernah mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra ataupun dari bahan lain yang sama mahalnya, atau memakan makanan yang sangat lezat yang saat ia selesai memakannya mengantuklah dia.

Karena ketidak percayaanya, sang istripun keep on asking day by day sampai akhirnya ia dapatkan pula jawaban sebenarnya. Ia pun menangis menyesali karean tidak sempat membeli barang-barang mewah dan harta itupun tak tersisa.
Sa’id memandangi istrinya yang bertambah cantik dengan linangan airmata yang meleleh dipipinya. Karena ia takut terlena oleh istrinya dan kehilangan keikhlasannya ia menolehkan wajahnya ke surga dimana teman-temannya sudah menunggu disana. Ia berkata yang seolah-olah ditujukan kepada dirinya yang sedang berhadapan dengan istrinya.

“cinta, kau kan tahu di dalam surga terdapat bidadari-bidadari yang bermata jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang benderanglah seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan bulan. Mengorbankan dirimu dan mendapatkan mereka tentu lebih utama daripada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu.”
Inilah Sa’id bin Amir, lalu disebelah manakah kita? Bersama sang istri ataukah menjemput bidadari bersama Sa’id dengan ketakwaan dan kezuhudan?

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.