Kisah Ahli Tahajud : Kisah Pedang Malam Al Fatih (Sang Pembuka)

April 29, 2009

Islam menaklukkan eropa, dipimpin oleh seorang pemuda yang sangat saleh, berusia 21 tahun. Namnya Muhammad Al Fatih kesuksesan hidup ia raih, dikenang jutaan manusia sepanjang abad. Harum nama Al Fatih berkat keshalehan, keberanian dan kemuliaan akhlaknya. Umurnya muda remaja semerbak wangi, 21 tahun. Sebagai jenderal beliau memimpin laskar islam menaklukkan benteng terkuat imperium Byzantium, Konstantinopel. Kota ini diubahnya menjadi kota Istambul. Dari sini beliau menebarkan kasih sayang islam di bumi eropa.

Jika saudara bertanya siapakah yang berjasa sehingga kini benih islam tumbuh di jantung eropa, seperti Bosnia Herzegovina, misalnya? Jawabanya, sejarah tak pernah melupakan jasa orang orang turki yang gagah berani. Diantaranya Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun.

Apa rahasia dibalik semua kesuksesan beliau? Ternyata rahasianya beliau sangat kuat shalat malamnya yaitu tahajud. Bukankah Rosululloh SAW menegakkan shalat tahajud sepanjang malam dan setiap hari? Bukankah beliau Rosululloh SAW shalat tahajud merupakan kewajiban yang tak bisa beliau tinggalkan dalam setiap perjuanganya.

Jika sudara bertanya, apakah benar Muhammad Al Fatih sudah melakukan tindakan besar yang megubah sejarah peradaban dunia? Ya, dalam sejarah, hal ini tidak aneh. Bukankah sahabat Rosululloh SAW bernama Usamah juga menjadi panglima perang dalam usia 18 tahun. Sementara yang menjadi prajuritnya adalah Umar bin Khatab sahabat besar Rosululloh SAW. Ini menunjukkan betapa kualitas keimanan dan kekuatan ruhani Usamah menjadi salah satu ukuran yang dipertimbangkan Rosululloh SAW ketika menetapkan Usamah memimpin ekspedisi militer menghadapi kekuatan super power Romawi?

Bukankah dalam usia belasan tahun Usamah bin Ladin bergabung dengan Mujahidin Afganistan melawan super power Rusia. Bukankah dalam usia 17 tahun Ibnul Khatab, warga saudi arabia, (sebelum akhirnya menjadi komandan lapangan di ladang jihad Chechnya, dan menggapai syahid dalam usia 35 tahun April 2002) menerjunkan diri dengan teguh hati ke medan jihad Afghanistan dan mengurungkan niatnya melanjutkan kuliah di Universitas terkemuka di Amerika.

Namun Sang Pedang Malam, orang asia bernama Muhammad Al Fatih merontokkan super power Romawi pada 1453, agak unik. Beliau ahli shalat malam (tahajud), ahli qiyamul lail. Beliau selau kontak dengan energi terbesar di alam semesta ini, Allah SWT. Beliau selalu taqorrub, mendekatkan diri kepada Allah SWT, The Big Boss of Universe.

Sejak kecil Muhammad Al Fatih dididik oleh seorang wali. Beliau tumbuh menjadi remaja yang memiliki kepribadian unggul. Beliau jadi Sultan, dalam usia 19 tahun menggantikan sang ayah.

Bagaimana sifat Muhammad Al Fatih sehingga beliau mampu memetik keberhasilan dalam hidupnya dengan sangat efektif, merebut benteng Konstantinopel yang kokoh itu. “sifatnya tenang, berani, sabar menanggung penderitaan, tegas dalam membuat keputusan dan mempunyai kemampuan mengawasi diri (self control) yang luar biasa. Kemampuanya dalam memimpin dan mengatur pemerintahan sangat menonjol.”

Muhammad Al Fatih sangat tegas terhadap musuh. Namun, lembut qolbunya bagai selembar sutra dalam menghadapi rakyat yang dipimpinnya. Kebiasaan Sultan Muhammad Al Fatih, unik. Beliau selalu berkeliling di malam hari, memeriksa kondisi teman dan rakyatnya. Sengaja beliau berkeliling untuk memastikan agar rakyat dan kawan-kawanya menegakkan shalat malam dan qiyamullail.

Qiyamul lail, shalat tahajud, inilah senjata utama Muhammad Al Fatih dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Inilah Pedang Malam, yang selalu diasahnya dengan tulus ikhlas dan khusuk, ditegakkan setiap malam. Dengan pedang malam ini timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad Al Fatih. Sjarah mencatat Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun berhasil menggapai sukses besar, menerobos benteng Konstantinopel, setelah dikepung beberapa bulan maka takluklah Konstantinopel.

Suatu hari timbul soal ketika pasukan islam hendak melaksanakan shalat jum’at yang pertama kali di kota itu. “Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?” tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri ! lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri. Kemudian beliau bertanya. “ Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajin lima waktu, silakan duduk!!” Subhanalloh……!!! Maha suci Allah ! tak seorangpun pasukan islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Apa artinya? Itu berarti, tentara islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari ini, tak seorangpun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun mereka melalaikan shalat fardhu. Luar biasa…..!!!!!!

Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rowatib?kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!!!”. Sebagian lainya segera duduk. Artinya, pasuka islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunah setelah maghrib, dua roka’at sebelu shubuh dan shalat rowatib lainaya. Namun ada yang pernah meninggalkanya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, pasukan islam Al Fatih.

Dengan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukanya Muammad Al Fatih kembali berseru lalu bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!!” apa yang terjadi…???? Terlukislah pemandangan yang menakjubkan sejarawan barat dan timur. Semua yang hadir dengan cepat duduk!!”Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia???dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng super power Byzantium Konstantinopel. Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tak kosong semalampun.

Sejak abad kedelapan sahabat Rosululloh berusaha merebut benteng ini. Salah satunya Abu Ayyub Al Anshari namun gagal. Baru setelah enam abad kemudian benteng itu berhasil direbut dibawah pimpinan Muhammad Al Fatih.Karena jasanya inilah beliau diberi gelar Al Fatih (sang pembuka) yaitu membuka kota Byzantium yang dulunya adalah Konstantinopel. Beliau adalah seorang pemberani, ahli strategi militer, juga istiqomah dalam shalat tahajudnya.

Itulah sebuah kisah sejarah yang sungguh indah dalam bungkai ketakwaan kepada Allah SWT. Kisah Pedang Malam yang merupakan rahasia sukses dari seorang pribadi penggubah sejarah, bernama Muhammad Al Fatih, orang asia asal Turki, yang baru berusia 21 tahun. Shalat Tahajud merupakan modal yang sangat penting untuk membangun kekuatan ruhiyah dalam kesuksesan Al Fatih dikemudian hari. Sehingga islam jaya, berpendar-pendar cahayanya selama 500 tahun di bumi eropa sejak abad ke-15. Semuanya berasal dari Pedang Malam Al Fatih yang amat begitu luar biasa.

Maa syaaAllah, Luar biasa……Sultan Muhammad Al Fatih (Sang Pembuka)……!!!!

Sumber:dieni.blog.friendster.com/


Andai ia terus bernyanyi ….. Mc Jagger atau Axl Rose gak pernah melegenda

April 29, 2009

Laki-laki itu adalah imam Malik ibnu Anas, salah seorang di antara empat imam yang agung, yang lahir dan besar di Madinah, serta tidak pernah berkeinginan untuk meninggalkannya selamanya, betapa pun besarnya godaan-godaan yang dihadapinya. Sebab, sama sekali tidak ada yang lebih utama dan lebih mulia daripada tempat yang di bawah tanahnya terdapat jasad Rasulullah saw.

Uniknya, sebenarnya Malik dapat menjadi sebuah nama besar dalam dunia musik dan lagu Arab, seandainya tidak karena ibunya yang menasehatinya, menghalanginya, dan memintanya agar menjauhi jalan ini; bukan sebagai penetapan dari sang ibu bahwa lagu adalah haram, sebagaimana diyakini oleh sebagian orang, tapi karena tampaknya dia telah merasakan bahwa dalam diri putranya terdapat akal yang lebih kuat beberapa tingkat daripada suaranya, dan melihat bahwa perjalanan putranya ke tempat yang di dalamnya kemudian dia berada memiliki signifikansi yang besar.

Sang imam adalah pemilik suara yang merdu dan bagus, wajah yang tampan, dan penampilan yang lumayan. Dia membuat Anda mencintai agama, bukan membuat Anda lari darinya sebagaimana kadang terjadi. Dia pernah mencoba untuk menjadi penyanyi dan mendendangkan lagu milik penyanyi Irak yang terkenal. Dan seandainya dia terus berada di jalur musik, niscaya dia akan menyaingi Ishaq al-Mushili dalam sejarah, tapi kita akan kehilangan sebuah akal yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang Arab dan kaum muslimin dari dulu hingga sekarang.

Laki-laki ini telah mencapai puncak ilmu dan keagungan dalam satu waktu. Tidak ada lagi keagungan dan penghormatan setelah ungkapan yang terkenal ini,
“Tidak ada yang memberi fatwa, sedang Malik ada di Madinah.” Artinya, apabila dia ada, maka Anda tidak layak untuk bertanya kepada seorang pun di antara manusia selain dia.

Dan dia mampu menjadi seorang yang diplomatis dalam fatwa-fatwanya, dalam pengertian bahwa dia tidak membentur apa dan siapa yang telah ada, sampai Allah menetapkan perkara yang pasti terjadi. Pada suatu hari, mereka bertanya kepadanya,
“Apakah orang-orang yang memberontak kepada sultan dan penguasa boleh diperangi?” Dia berpikir sejenak, lalu menjawab dengan cepat bahwa hal itu boleh, apabila sang penguasa adalah orang seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pertanyaan tersebut tetap menggantung.
Maka sang penanya bertanya kepadanya sekali lagi,
“Apabila dia tidak demikian?” Dia pun menjawab sambil mengalihkan perhatian si penanya dengan lemah lembut, “Wahai saudaraku, biarlah Allah membinasakan sebagian dari orang-orang zalim dengan sebagian dari mereka.”
Dia tidak menyukai kekerasan dan tidak menganjurkannya, tapi dia menyeru dengan cara yang baik dan dengan perkataan yang lembut, yang tidak melukai seorang pun tanpa justifikasi.

Tersisa bagi Anda untuk mengetahui bahwa dia tidak akan mencapai kedudukan itu, dan sosoknya tidak akan setinggi ini, seandainya dia tidak suka bekerja (ya’mal), lalu bekerja, lalu bekerja. Dan Anda dapat meletakkan mim setelah lam (ya’lam: mengetahui, belajar) dan mengulangi kata kerja ini seribu satu kali, sebagaimana yang dilakukannya secara praktis.

Mereka menjadi tokoh dengan amal (kerja) dan ilmu yang saling bertautan, bukan dengan sesuatu yang lain di antara apa yang Anda lihat


Selalu ada Alasan untuk Kaya Raya !

April 27, 2009

Oleh Hatta Syamsuddin
Pendahuluan : Harta : Antara Fitnah dan Anugerah
Islam sejatinya menempatkan harta pada posisi yang netral. Ia bukanlah sesuatu yang tercela atau terpuji dengan sendirinya, melainkan pemilik harta itulah yang menjadikan harta itu berubah menjadi fitnah atau anugerah. Islam mengakui dengan gamblang fungsi harta sebagai penopang dalam kelancaran menjalani kehidupan, karenanya Islam berpesan untuk tidak menyerahkan harta pada mereka yang tidak kredibel dalam mengelolanya. Allah SWT berfirman :
” Dan janganlah kamu serahkan (harta-hartamu) kepada orang-orang yang bodoh , harta yang dijadikan Allah bagimu sebagai pokok kehidupan”. (QS An-Nisa 5)
Bahkan dalam beberapa ayat (QS Al-Adiyat 8, Al-Baqoroh 180), Allah SWT juga menyebutkan ‘harta’ dengan lafadz “al-khoir” yang berarti : kebaikan. Ini mengisyaratkan sebuah hikmah dan rahasia kebaikan dalam sebuah harta.

Karenanya secara umum, harta atau kekayaan tidak perlu ditakuti secara berlebihan, apalagi mengatasnamakan anjuran Islam. Sikap phobi dan menjauhi harta, sebagaimana jalan yang dipilih sebagian kaum sufi, tidak seharusnya kita adopsi mentah-mentah begitu saja. Bukan harta atau kekayaan, sejatinya yang kita takuti adalah efek lanjutan dari harta /kekayaan yang bisa melalaikan. Dalil Al-Quran dan Sunnah selalu mengingatkan akan hal ini, yaitu jangan sampai harta membuat kita lalai. Ketika kita tidak lalai dari mengingat Allah SWT, maka harta kekayaan kita akan dijanjikan keberuntungan oleh Allah SWT.
” Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. ” ( QS Al-Munafiqun 9 )
” Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS Jumat 10)
Paparan dua ayat di atas menjadi demikian jelas bagi kita, bahwa dalam masalah berinteraksi dengan harta dan bisnis, kata kuncinya ada dua :
1) Lalai dari mengingat Allah menjadikan kita rugi dan harta statusnya menjadi fitnah,
2) dan sebaliknya ; selalu mengingat Allah SWT dalam perniagaan , kita akan beruntung dan harta menjadi anugerah.

Berbagai alasan untuk menjadi kaya
Ketika kita sudah lebih netral dalam memposisikan harta, tidak phobi dan juga tidak menganggapanya segala-galanya bagi kehidupan kita, maka mari kita pertajam bahasa kita untuk menyadari bahwasanya ajaran Islam secara langsung maupun tidak menuntut kita untuk menjadi kaya, atau lebih kaya dari sebelumnya. Berikut beberapa alasan Islam menuntut kita untuk kaya :

Pertama : Lebih Kaya berarti lebih bisa bermanfaat bagi yang lainnya
Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda : ” Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya ” (HR Baihaqi dan Ibn Asakir) , dalam riwayat : ” yang paling dicintai oleh Allah SWT “.
Dengan kekayaan, seseorang bisa memberi manfaat untuk orang lain. Ia bisa berkontribusi dengan hartanya untuk membantu seseorang yang membutuhkan. Ibadah sosial seperti ini tidak bisa diremehkan, dalam riwayat dari Ibnu Abbas ra disebutkan ; pahalanya melebihi itikaf di masjid nabawi sebulan penuh ! Inilah peluang kemuliaan tersendiri yang harus disadari dan disambut oleh orang-orang kaya.

Kedua : Menjauhkan dari efek negatif kemiskinan
Rasulullah SAW sejak dini mengajarkan pada kita untuk menjauhi kemiskinan. Dalam doa-doa beliau senantiasa diisyaratkan untuk mengarah pada kekayaan dan berlepas dari kemiskinan. Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya Rasulullah SAW berdoa pada dua hari raya : Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ketakwaan, harga diri, kekayaan dan petunjuk ” (HR Thobroni )
Dari Abi Bakroh ra, saya mendengar Rasulullah SAW berdoa : ” Ya Allah , sesungguhnya Aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran ” (HR Al-Hakim)
Dengan menjadi kaya, otomatis kita bisa menjauhi dari efek negatif kemiskinan. Dalam hal ini kita bisa lihat contoh dari Lukman al-Hakim yang mengingatkan anaknya tentang bahaya kemiskinan. Ia berpesan kepada anaknya : ” wahai anakku ..hendaklah engkau berusaha untuk mencari penghasilan yang halal, karena tidaklah seseorang itu menjadi fakir melainkan ia akan terkena tiga akibat, yaitu : tipis dalam agamanya, lemah akalnya, dan hilang kewibawaannya, dan ketahuilan yang paling buruk dari itu semua adalah : orang-orang akan meremehkannya !” (Mukhtasor Minhajul Qosidin)

Ketiga : Banyak amal ibadah dan anjuran Islam memerlukan dana besar
Sebagai sebuah konsekuensi dari ajaran Islam yang syamil, maka muncul banyak ragam amalan syar’I yang mau tidak mau membutuhkan pendanaan yang cukup. Contoh sederhana adalah jihad dan haji. Kedua amalan agung tersebut setidaknya membutuhkan kesiapan finansial yang lebih besar dari ibadah yang lain. Dari mulai transportasi, senjata hingga persiapan logistik. Bahkan dalam perang Tabuk, beberapa sahabat yang tulus ingin ikut berperang gagal berangkat karena tidak kebagian jatah logistik yang cukup.( Lihat : QS At-Taubah 91-92).
Itu dari contoh yang wajib, yaitu jihad dan haji. Sebenarnya ada beberapa amalan sunnah yang dianjurkan Islam jelas-jelas membutuhkan modak banyak dalam menjalankannya. Misalnya perintah Umar bin Khatab pada warga Syam untuk melatih anak-anak mereka tiga hal, yaitu ; berenang, menunggang kuda dan memanah ! Bayangkan saja di jaman ini berapa banyak biaya yang harus kita siapkan untuk berlatih menunggang kuda, berenang dan memanah ? Jawabnya sederhana ; hanya mereka yang berduit yang bisa melakukannya.

Keempat : Karena hukum asal kenikmatan dunia ini memang boleh
Ini alasan paling sederhana tapi memang logis, yaitu bahwasanya segala kenikmatan di dunia ini memang diciptakan Allah untuk manusia. Jika tidak ada dalil yang jelas dan tegas mengharamkannya, maka hukum asalnya adalah mubah. Allah SWT pun mengingatkan kita supaya tidak ‘melulu’ mencari akhirat, tetapi juga harus mengambil bagian dari kenikmatan dunia.
Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.( QS Al-Qoshos 77)
“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal (ketenangan) } dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan membawanya di waktu kamu berjalan dan di waktu kamu bermukim dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta, bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu) ” ( QS An-Nahl : 80)
Islam bukan cuma mengingatkan tentang kenikmatan dunia, tetapi bahkan Rasulullah SAW juga memberikan semacam batasan standar yang wajar untuk dicari dan diusahakan.
Dari Sa’d bin Abi Waqof, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Empat hal termasuk unsur kebahagiaan : istri yang sholeh, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman “ ( HR Hakim dalam Al-Mustadrok )
Hadits di atas memberikan standar kebahagiaan dunia yang wajar dan layak untuk ‘sedikit’ kita perhatikan, yaitu berupa ; tempat tinggal yang luas dan kendaraan yang nyaman.

Kelima : Karena Fitrah manusia memang diarahkan untuk menjadi orang kaya !
Bukanlah suatu hal yang berlebihan jika kita mengatakan bahwa fitrah manusia memang dianugerahkan oleh Allah SWT untuk menjadi kaya raya. Karenanya manusia diberikan kecintaan yang fitrah pada banyak hal di dunia ini yang –secara umum- harus didapatkan dengan sebuah kekayaan. Allah SWT berfirman : ” Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imron 14)

Keenam : Islam melarang kita meninggalkan generasi yang miskin !
Allah SWT berfirman : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. ” (QS An-Nisa 9)
Ayat di atas memang tidak langsung berhubungan dengan motivasi untuk kaya, karena sejatinya ayat tersebut lebih membahas tentang wasiat dan adab-adabnya. Tetapi secara keumuman makna, ayat tersebut juga mengisyaratkan bagi para orang tua untuk meninggalkan harta yang cukup bagi anak-anaknya, agar tidak ditinggalkan –ketika meninggal- dalam kondisi yang lemah, apalagi meminta-minta kepada orang lain.
Ini berarti untuk meninggalkan harta warisan yang cukup bagi keturunan kita yang akan datang, kita butuh bukan sekedar kaya, tetapi kaya raya. Agar tidak hanya kita dan keluarga saja yang menikmati dan mengelolanya, tetapi juga generasi selanjutnya.

Penutup : Mengelola Kekayaan dengan Ilmu & Keshalihan
Islam selalu menambahkan ‘ilmu’ dan ‘keshalihan’ saat bercerita tentang harta yang baik. Ini menandakan bahwa semua harta kita menjadi tiada guna jika tidak diikuti dengan kemampuan maintenance yang diharapkan Islam. Karenanya, syarat kredibilitas dan kapabilitas dalam mengelola harta selalu dituntut agar menjaga harta itu tetap sebagai anugerah dan tidak berubah menjadi fitnah.
Tentang syarat kredibilitas, Rasulullah SAW bersabda : ” Sebaik-baik harta yang baik adalah yang ada pada lelaki yang sholih (bertakwa) ” (Shahih dg syarat Muslim). Adapun tentang kapabilitas, Rasulullah SAW menyebutkan dalam haditsnya : ” Seorang hamba yang diberikan rizki oleh Allah berupa harta dan ilmu, maka ia takut pada Allah, menyambung silaturahmi dengan hartanya, dan mengetahui bahwa dalam harta itu ada hak Allah, maka orang ini mempunyai posisi yang paling utama ” (HR Tirmidzi)
Akhirnya , dengan ilmu dan keshalihan, harta akan benar-benar menjadi anugerah bagi pemiliknya. Rumah yang nyaman dan luas akan menjadi lahan persemaian benih-benih genarasi cendekia yang beriman. Kita bisa membuka sebuah taman baca untuk anak dan remaja, mengundang pengajian ibu-ibu, atau mengajak bapak-bapak arisan RT sambil berdiskusi ringan tentang kehidupan. Dengan ilmu, kendaraan kita yang nyaman bisa mengantarkan kita menghadiri majelis-majelis ilmu : pengajian, kajian, seminar atau bahkan bangku perkuliahan, dengan cepat dan bersahabat.
Jadi, selalu ada alasan untuk kaya raya .Wallahu a’lam.


Program Romantis di awal Pagi

April 26, 2009

Oleh Hatta Syamsudin

Program romantis ini akan kita mulai sejak sepertiga malam yang terakhir. Adu cepat siapa yang lebih dahulu bangun. Bisa jadi sang istri karena suami kelelahan dalam aktifitas luar rumahnya. Atau sebaliknya, suami bangun duluan karena sang istri begadang menyelesaikan pekerjaan rumah atau menidurkan si kecil. Siapapun, yang lebih dahulu bangun segera membangunkan yang lainnya. Lalu bersama bermunajat, bertaqarrub, dan menumpahkan harapan dalam doa-doa yang terlantunkan bersama. Satu memimpin dan yang lainnya mengamini.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu sholat, dan ia membangunkan istrinya lalu istrinya pun sholat. Jika istrinya enggan bangun, ia memercikkan air ke wajah istrinya. Allah Swt merahmati seorang wanita yang bangun di malam hari lalu sholat, dan ia membangunkan suaminya lalu suaminya pun sholat. Jika suaminya enggan, maka ia memercikkan air ke wajah suaminya. {HR Nasai (1610), Abu Dawud ( 1308), Ibnu Majah (1336) dan Ahmad (7362) }

Terkadang tidak semudah yang kita bayangkan. Berat sekali membangunkan orang yang kelelahan. Tak tega rasanya hati ini membangunkan si dia yang tidur nyenyak terbuai mimpi. Ada cinta yang begitu mendalam, memunculkan perasaan iba pada suami yang kelelahan. Benar-benar pilihan yang sulit untuk dijalankan. Antara membiarkannya beristirahat dengan mengajaknya menikmati qiyamul lail. Antara kepuasan raga atau ketenangan jiwa.

Andai saja kita tahu, bahwa sesungguhnya ia tidak sedang benar-benar lelah. Memang nampak sekilas gurat lelah di wajahnya, namun cobalah berpikir bahwa sesungguhnya ia pun berharap sholat malam seperti Anda, hanya saja raganya kini tak berdaya. Ia tak mempunyai banyak kekuatan untuk bangun karena ada setan-setan yang mencoba menutup telinganya. Maka tegakah Anda membiarkan pasangan Anda beramai-ramai dikencingi setan telinganya ?

Dari Ibnu Mas’ud ia berkata : Disebutkan di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam seorang lelaki yang tidur semalaman hingga pagi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Itu adalah orang yang kedua telinganya dikencingi syetan – atau Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : telinganya “ (HR Bukhori, Muslim, Nasai, dan Ibnu Majah)

Naudzubillah. Pasti kita semua tidak akan rela membiarkan itu semua. Maka cobalah sekali lagi untuk membangunkannya, dengan cara-cara yang mesra dan tak mengagetkannya. Secangkir kopi atau sentuhan hangat di kening, ciuman atau bahkan gigitan mesra. Terus saja berusaha, karena setan-setan itu juga sekarang sama gigihnya dengan Anda. Jangan sampai terkalahkan karena itu berarti membiarkannya dalam kerugian, dan meninggalkan Anda dalam penyesalan.
Sudah selesaikah tugas kita dengan hanya membangunkan pasangan kita ? Belum sepenuhnya. Ada kemesraan lain yang harus disiapkan oleh para istri sebelum suaminya bangkit dari tidurnya. Ini sebagaimana istri Rasulullah juga begitu bersemangat menyiapkan sesuatu untuk suaminya yang mulia ketika bangun pagi.

Dari Aisyah ra, ia berkata : Kami biasa menyediakan siwak dan alat pembersih untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu Allah membangkitkan beliau dari tidurnya pada waktu malam hari, kemudian beliau bersiwak dan berwudhu lalu sholat (HR Ahmad)

Maka untuk para istri, agenda romantis begitu bertaburan di pagi hari, bahkan sebelum sang suami bangun. Dari mulai alat mandi, segelas air putih untuk kesehatannya, atau keperluan pagi hari yang lainnya. Anda tentu lebih tahu apa yang paling dibutuhkannya, sesaat setelah membuka kedua matanya. Subhanallah. Romantis ini benar-benar akan dimulai bahkan sejak kedua mata ini membuka pertama kalinya.

Menjelang Pergi
Pagi hari menjelang keberangkatan suami tercinta benar-benar menyibukkan. Seorang istri bak asisten pribadi yang cekat tanggap menyiapkan segala kebutuhan suami sebelum berangkat ke dunia tugasnya. Ini ada peluang pahala sekaligus mesra yang senantiasa berulang tiap pagi. Jangan biarkan para suami menyelesaikan seluruh persiapannya seorang diri. Harus ada tangan-tangan mesra yang siap dan cekat membantunya. Dari mulai mempersiapkan pakaian, makanan, hingga hal-hal kecil seperti menyisir rambut dan memakaikan kaos kaki. Berikut beberapa inspirasi dari rumah tangga kenabian, yang kita masih saja belum bisa tuntas menirunya.

a. Mengoleskan / menyemprotkan parfum
Dari Aisyah Ra, ia berkata : Aku pernah mengoleskan minyak wangi kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dengan minyak wangi yang beliau miliki sampai aku mendapati warna kemilaunya minyak wangi tersebut pada kepala dan jenggotnya ( HR Bukhori )

b. Menyisir rambut suami
Dari Aisyah ra, ia berkata : Saya biasa menyisir rambut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, padahal saat itu saya sedang haidh (HR Ahmad)

c. Menyiapkan pakaian yang pantas dan serasi
Dari Aisyah Ra, ia berkata : Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah diberi hadiah mantel hitam, lalu beliau pakai mantel itu seraya bersabda : Bagaimana menurut pendapatmu pakaian ini wahai Aisyah ? Aku menjawab : Alangkah bagusnya engkau dengan pakaian itu wahai Rasulullah. Warna hitamnya serasi dengan kulit putihmu, dan begitu pula kulit putihmu dengan warna hitamnya. Aisyah berkata : Kemudian beliau keluar ke tempat orang banyak dengan memakai pakaian itu.

Setelah semua siap, maka saatnya istri melepas suami pergi mencari nafkah atau berjuang di jalan Allah. Istri mencium punggung tangan suami, sementara suami mencium kening sang istri. Sekali lagi ini bukan hak preogratif mereka yang baru meniti bahtera rumah tangga di tahun-tahun pertama. Sebelum berpisah, hendaknya saling berpesan, bertukar nasihat. Mengingatkan agenda-agenda yang mungkin terlupa. Mengingatkan untuk selalu meluruskan niat dalam setiap langkah. Di dalam maupun di luar rumah. Sehingga keduanya sama-sama terjaga dari hal-hal yang diharamkan.

Dalam kitab Mukhtasor Minhajul Qasidin disebutkan, dulu para wanita salaf, jika suaminya hendak keluar dari rumahnya (untuk bekerja mencari nafkah), mengatakan pada suaminya : Hati-hati dengan penghasilan yang haram, sesungguhnya kami (anak istrimu) bisa tahan pada kelaparan, tapi kami tidak tahan pada api neraka .


Andai pemimpin kita seperti dia

April 17, 2009

Khalifah Umar pada masa kepemimpinannya pernah menggelar pertemuan dengan raky at nya di Hims negeri Syam, dalam pertemuan itu hadirlah Sa’id bin Amir gubernur Syam. Yang Umar memujinya karena kecintaan rakyat syam kepada gubernurnya yang sangat ringan tangan membantu mereka. Umar berkata,”Wahai rakyat syam, hari ini aku perkenankan kalian untuk mengutarakan unek-unek dan kekecewaan kalian kepada gubernurku Sa’id.”

Kemudian atas nama kelompok, seorang laki-laki angkat bicara,
“Kami mengeluhkan empat hal: pertama, ia hanya keluar untuk rakyatnya saat hari sudah siang; kedua, ia tidak melayani kami di malam hari; ketiga, setiap bulan ia libur dua hari dimana kami tak melihatnya sama sekali;keempat, sebenarnya bukan kesalahannya tapi cukup menggengu kami, sewaktu-waktu ia jatuh pingsan.” Lalu laki-laki itu duduk.

Khalifah Umar menunduk memohon kepada Allah,”Ya Allah, aku tahu bahwa ia (Sa’id) adalah hamba-Mu yang terbaik, maka janganlah Engkau belokkan firasatku ini.”

Kemudian Sa’id dipersilahkan untuk menjawab keluhan-keluhan tersebut, “Demi Allah, aku sangat benci untuk mengutarakan ini, kami tidak mempunyai pembantu rumah tangga, maka akulah yang mengaduk tepuk hingga menjadi roti untuk sarapan kami, kemudian aku berwudhu dan shalat dhuha, barulah setelah itu aku keluar menemui rakyatku. Sedangkan malam hariku kuperuntukkan untuk Allah, cukuplah siang hariku untuk rakyatku.” Umar merasa lega dengan jawaban atas dua keluhan. Kemudian Sa’id kembali melanjutkan,
“Mengenai keluhan dua hari liburku dalam sebulan adalah karena dalam dua hari itu aku harus mencuci pakaianku, dan pakaianku tidak banyak. Aku tidak leluasa untuk berganti pakaian. Aku mencucinya lalu menungunya sampai kering.”

“Tentang keluhan bahwa aku sering jatuh pingsan adalah ketika aku tinggal di mekkah dulu, aku melihat langsung bagaimana khubaib Al Anshari terbunuh. Tubuhnya disayat-sayat. Saat itu orang-orang Quraisy bertanya,’maukah kamu jika Muhammad saw menggantikanmu dan engkau bebas?” Khubaib menjawab,”Demi Allah aku tidak ingin berada di rumah bersama anak istriku menikmati kesehatan dan kelezatan hidup, sementara Rasulullah saw terkena musibah walau hanya tertusuk duri.’ Saat itu aku masih kafir, aku menyaksikan dengan mata kepala, dan aku tidak bergerak sedikitpun untuk menolong Khubaib. Karena itu aku sangat takut akan siksa Allah kelak, hingga aku jatuh pingsan.” Umar sangat terharu lalu merangkul Sa’id, dan mencium keningnya yang bercahaya.

Tidak hanya itu, masih banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari Sa’id ini. Suatu ketika, ada yang menasihatinya,”Berikanlah kelebihan harta itu untuk keperluan keluargamu dan istrimu.” Apa jawab Sa’id?, “Mengapa keluargaku dan istriku? Demi Allah, aku tidak akan melepas keridhaan Allah demi mementingkan kerabatku.”
Seringkali orang menasihatinya,”Berikanlah jatah belanja yang cuku untuk dirimu dan keluargamu. Nikmatilah hidup ini.” Tapi ia selalu menjawab,

“Aku tidak ingin tertinggal oleh rombongan pertama. Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,’Allah ‘Azza wa Jalla akan menghimpun manusia untuk dihadapkan di pengadilan-Nya. Maka orang-orang miskin dari orang-orang mukmin berdesak-desakan maju kedepan tak ubahnya bagai kawana burung merpati . lalu ada yang berseru kepada mereka,”Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan.” Mereka menjawab,”Kami tidak mempunyai apa-apa untuk dihisab.” Maka Allah berfirman,”Hamba-hamba-Ku ini benar, mereka masuk kesurga sebelum orang-orang lain masuk.”

Inilah salah satu wajah kepemimpinan di era kegemilangan Islam, lalu kalau boleh oleh pemerintah; marilah kita bandingkan wajah kepemimpinan kita dengan Sa’id adakah kemiripan? Terlalu jauh untuk membandingkannya dengan Rasulullah saw, kita bandingkan saja dengan Sa’id bin Amir ini yang namanya saja baru kita kenal.


Bidadari Surga

April 17, 2009

Kita yang telah bersaksi dan menyerahkan diri kepada Allah dan dengan bangga mendeklarasikan keislaman kita, tentu berharap akan masuk surga seburuk apapun amalan kita, pasti kita mendambakannya. Surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai yang tak akan pernah kering dan dihiasi oleh bidadari yang apabila mereka menampakkan kecantikannya cahayanya sanggup menyinari bumi.

Adalah Sa’id bin Amir seorang gubernur Syam pada masa Khalifah umar yang sangat tergila-gila pada bidadari surga. Pada saat ia diangkat oleh Umar sebagai gubernur Syam ia diberangkatkan ke Hims ibukota Syam bersama istrinya yang sejak kecil terjaga kecantikannya, Umar juga membekalinya dengan harta yang selama ini tidak pernah dimiliki oleh Sa’id untuk keperluannya selama di Hims.

Sesampainya di Hims dan merasa nyaman, sang istri bermaksud untuk membelanjakan harta yang diberikan umar untuk membeli pakaian yang layak, keperluan rumah tangga, dan menyimpan sisanya. Tapi Sa’id berkata,”maukah kamu aku tunjukkan yang lebih baik dari itu? Kita sekarang berada di sentra bisnis paling ramai, pasar sangat ramai, dan usaha-usaha berjalan dengan lancar. Bagaimana kalau kita berinvestasi saja sehingga harta kita berkembang?”
Sang istri bertanya,”kalau rugi gimana?”
Sa’id menjawab,”Aku jaminannya.” Sang istri pun menyetujui.

Kemudian Sa’id pergi membeli sebagian keperluan hidup dari jenis yang paling sederhana, lalu sisa uangnya ia sedekahkan kepada anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang lebih membutuhkannya.

Hari pun berlalu dari waktu ke waktu sampai saatnya sang istri menanyakan tentang perniagaan mereka. Sa’id berkata,”bisnis kita sangat lancar dan keuntungan kita semakin banyak.” Sang istri mendengar jawaban itu, tapi hatinya tidak pernah menerimanya karena selama ia hidup bersama sang gubernur belum pernah mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra ataupun dari bahan lain yang sama mahalnya, atau memakan makanan yang sangat lezat yang saat ia selesai memakannya mengantuklah dia.

Karena ketidak percayaanya, sang istripun keep on asking day by day sampai akhirnya ia dapatkan pula jawaban sebenarnya. Ia pun menangis menyesali karean tidak sempat membeli barang-barang mewah dan harta itupun tak tersisa.
Sa’id memandangi istrinya yang bertambah cantik dengan linangan airmata yang meleleh dipipinya. Karena ia takut terlena oleh istrinya dan kehilangan keikhlasannya ia menolehkan wajahnya ke surga dimana teman-temannya sudah menunggu disana. Ia berkata yang seolah-olah ditujukan kepada dirinya yang sedang berhadapan dengan istrinya.

“cinta, kau kan tahu di dalam surga terdapat bidadari-bidadari yang bermata jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang benderanglah seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan bulan. Mengorbankan dirimu dan mendapatkan mereka tentu lebih utama daripada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu.”
Inilah Sa’id bin Amir, lalu disebelah manakah kita? Bersama sang istri ataukah menjemput bidadari bersama Sa’id dengan ketakwaan dan kezuhudan?


ISTIGHFAR DAN ”TRAGEDI BELALANG” (3)

April 17, 2009

Oleh Abdi Sumaithi

Ketiga kesalahan tersebut bisa menenggelamkan seseorang ke dalam lumpur dosa disebabkan kelemahan dan ketidakmampuan mengawal dirinya dari melakukan maksiat. Sedangkan ketidakmampun itu jika dibiarkan tanpa upaya penguatan akan mendorongnya melakukan dosa-dosa besar. Rasulullah Saw bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil karena apabila ia terkumpul pada diri seseorang lambat-laun akhirnya ia akan membinasakannya”

Salah satu bentuk kebinasaan yang paling tragis, sebagai akibat meremehkan dosa kecil, ialah keterjerembaban dalam tragedi yang oleh Rasulullah Saw disejajarkan dengan “tragedi belalang” seperti diungkapkan dalam sabdanya, “Perumpamaanku dengan kamu sekalian seperti seorang laki-laki yang menyalakan api lalu kupu-kupu dan belalang-belalang berjatuhan ke dalamnya sedang laki-laki itu berusaha menghalanginya agar tidak terjerembab ke dalamnya. Aku (Rasulullah Saw) memegangi ujung-ujung kain kalian agar tidak terjerembab ke dalam api akan tettapi kalian cenderung melepaskan diri.” (HR, Muslim).

Istighfar, memohon ampun, sehubungan dengan dosa yang dilakukan manusia, termasuk dosa kecil, adalah sikap yang tepat buat kelangsungan eksistensinya sebagai makhluk yang memikul beban amanah ibadah dan risalah. Ia adalah tangga bagi peningkatan martabat kemuliaannya dan jalan keluar bagi pembebasan dirinya dari kemungkinan mengalami “tragedi belalang”.. Sebab kecenderungan bertaubat menyerah diri kepada Allah dan memohon ampunan-Nya adalah sifat utama yang dimiliki oleh orang-orang beriman. “Orang-orang yang apabila mengerjakan perbauatan keji atau menganiaya diri sendii lantas mereka ingat akan Allah lalu memohon keampunan terhadap dosa-dosa mereka- dan siapakah pula yang berkuasa mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedangkan mereka mengetahui” (QS, Ali Imran [3]:135)

Semakin cepat kesadaran seseorang terhadap kesalahan dan semakin cepat memohon ampun kepada-Nya, semakin cepat pula penyembuhannya. Kesadaran itulah yang mendorong seseorang merespon seruan Allah agar berlomba-lomba menuju ampunan-Nya “Dan berlomba-lombalah kamu kepada keampunan dari Tuhan kalian dan berlomba-lombalah mencari surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS, Ali Imran [3]: 133). Semakin dalam kita menyelami dan menghayati ampunan-Nya, semakin terbuka kebijakan dan kepuasan dalam ampunan-Nya.

Memilih waktu yang tepat untuk memohon ampunan Allah Swt memiliki keutamaan tersendiri. Malam adalah saat-saat paling hening untuk khusyu’ dalam memohon ampunan-Nya dan saat itu pula Allah membukakan rahmat-Nya. “Tiap malam Allah swt turun ke langit dunia hingga sepertiga malam terakhir dan berfirman: barangsiapa yang berdoa maka Aku mengabulkannya, barangsiapa yang meminta maka Aku akan memberinya, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya.” (HR, Bukhari)

Dengan terbukanya kebijakan dan kepuasan dalam ampunan-Nya pada diri seseorang, ia akan semakin sadar akan rahmat dan kemurahan-Nya yang menyebabkan dirinya semakin yakin atas karunia kemudahan yang akan diraih mengiringi ampunan-Nya. “Barangsiapa membiasakan istighfar maka Allah menjadikan jalan keluar dari segala kesulitannya, memberi kemudahan dari segala kesusahannya dan melapangkan rezeki yang tidak ia duga.” (HR, Abu Daud).

Oleh sebab itu Rasulullah Saw sendiri selalu beristighfar dan mengamalkannya terus menerus kendatipun Allah swt sudah mengampuni dosanya baik yang telah lalu maupun yang terkemudian. Bahkan dalam hadis riwayat Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah tidak kurang memohon ampun kepada Allah 70 kali setiap harinya. Wallahu A’lam.


ISTIGHFAR DAN “TRAGEDI BELALANG”(2)

April 15, 2009

Oleh Abdi Sumaithi

Cara-cara kontradiktif yang ditempuh manusia anatara lain ditampakkan dalam persepsi, sikap, dan perbuatannya terhadap sesuatu yang oleh agama dinyatakan sebagai dosa. Manusia dalam menyikapi dosa-dosa, baik dosa besar, apalagi dosa kecil, sangat beragam. Keragaman itu jelas mencerminkan perbedaan dalam mempersepsi sebuah perbuatan dosa serta suasana batin yang membentuknya.

Sebagian orang, mempersepsi dosa kecil sebagai dosa yang bisa diremehkan. Bahkan mereka tidak merasa berdosa ketika melakukannya. Akibatnya tidak sedikit di antara mereka yang terus melakukannya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sebaliknya orang-orang yang telah mencapai kemajuan spiritualnya yang tinggi sangat menghindari segala sesuatu yang berbau dosa bahkan sesuatu yang tidak patut sekalipun.
Sesungguhnya persepsi, sikap, dan prilaku seseorang yang meremehkan dosa-dosa kecil mengandung tiga kesalahan. Kesalahan pertama adalah bersifat substansial, yaitu persepsi dan sikapnya terhadap dosa kecil yang seolah-olah bisa diremehkan yang menyebabkan dirinya terus-menurus melakukannya tanpa merasa berdosa. Bukankah ketika kita melakukan dosa pada hakikatnya sedang mengalahgunakan hakikat karunia kebebasan kita sebagai makhluk moral?

Kesalahan kedua adalah bersifat normatif, yaitu ketidakpeduliannya kepada siapa dirinya berdosa. Bukankah ketika kita melakukan dosa, sekecil apa pun dosa itu, pada hakikatnya kita sedang melakukan pembangkangan terhadap kehendak Yang Maha Mulia, Maha Agung, dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?

Kesalahan ketiga adalah bersifat kesejarahan, yaitu membebani perjalanan jauh kita menuju Allah dengan beban sejarah berupa lumuran dosa. Bukankah para malaikat penjaga diberi tugas khusus oleh Allah swt untuk mencatat setiap amal perbuatan, ucapan, bahkan niat yang terbersit dalam hati setiap manusia?
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS, al-Infithar [82]:10-12)


Angkot yang Bikin Bersyukur

April 14, 2009

Oleh Bayu Gawtama
angkot2Ahad kemarin, kami sekeluarga tiba di Bogor untuk kemudian melanjutkan perjalan ke Cibinong, masih di kawasan Bogor. Acara hari itu, mengantar adik kami untuk membalas kunjungan ke rumah calon suaminya setelah dua pekan lalu, keluarga calon suami adik kami itu silaturahim ke rumah.

Semula saya menduga bahwa Bapak akan menyewa mobil di tempat rental mobil untuk pergi ke Cibinong. Namun rupanya, hanya mobil angkutan umum/angkutan kota (angkot) yang disewa dengan alasan lebih murah. Akhirnya, berangkatlah kami dengan angkot tersebut di tengah terik yang menyengat.

Perjalanan lumayan jauh dan beberapa kali terjebak macet, membuat seisi mobil berkeringat kegerahan. Tatanan rambut dan jilbab mulai tak sempurna, bahkan dua puteri saya sudah melepas jilbabnya lebih dulu di setengah jam perjalanan. Ada dua balita di dalam mobil yang uring-uringan, keadaan itu membuat saya –dan mungkin anggota keluarga yang lain- nyaris mengeluh.

Beruntung, keadaan terselamatkan oleh pemandangan di sebelah mobil angkot yang kami tumpangi. Saat berhenti di lampu lalu lintas, sebuah mobil pick up alias bak terbuka berhenti persis di sebelah kami. Di bagian bak terbuka, sejumlah orang yang kami duga juga sekeluarga karena terdiri dari beberapa orang tua, para ibu, lelaki dewasa serta anak-anak kecil dan balita terjemur terik matahari. Matahari menyengat langsung kepala dan kulit mereka, beberapa diantaranya memanfaatkan lembaran koran, bagi yang tidak punya apa-apa untuk penutup kepala, kedua tangannyalah yang diandalkan. Yang mengagumkan, mereka terlihat ceria dan anak-anaknya asik bersenda gurau.

Melihat pemandangan itu, serta merta saya berkata kepada isteri dan anak-anak saya, “Alhamdulillah, kita memang kegerahan. Tapi lihat di mobil bak itu, mereka malah kepanasan langsung tersengat matahari…”

Terima kasih ya Allah, Engkau tunjukkan satu pemandangan untuk menegur kami agar lebih banyak bersyukur. Kami yang nyaris mengeluh dengan keadaan tak nyaman di dalam mobil angkot, tiba-tiba disadarkan oleh keluarga di sebelah mobil kami yang justru mengalami kondisi yang tidak lebih baik dari kami. Sebagian kami yang murung karena merasa kepanasan, sebenarnya masih lebih beruntung dari keluarga di mobil bak terbuka itu.

Ada saja cara Allah untuk menegur hamba-Nya agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan. Kadang, perlu kearifan untuk bisa melihat cara-cara Allah itu dengan cara melihat cara orang lain menikmati dan mensyukuri nikmatnya. Sungguh, ketika kita mengeluh atas keadaan yang tidak sesuai harapan, bahkan ada orang-orang di sekitar kita yang tak lagi sempat mengeluh, lebih banyak orang selain kita yang bahkan tak boleh memiliki harapan. Namun kadang orang-orang itu justru terlihat lebih bersyukur dibanding kita.

Semua terletak pada cara kita memandang diri ini, saat kita menganggap diri paling sengsara, ya seperti anggapan itulah yang kita rasakan. Cobalah melihat penderitaan kita sebagai cobaan kecil yang tak seberapa ketimbang ujian bertubi-tubi yang dialami orang lain. Niscaya kita akan lebih tersenyum menghadapinya, tanpa keluhan dan tak perlu berteriak meminta bantuan orang lain seolah kita orang yang paling menderita di muka bumi ini.

Pulang dari rumah keluarga calon suami adik kami itu, masih dengan mobil angkot yang sama, hujan turun cukup deras. Di luar sana, lebih banyak orang yang kehujanan tanpa tempat berteduh dan menggigil kedinginan. Alhamdulillah, tak sedikitpun kami mengeluh. Nikmati saja angkot itu, bagian dari rasa syukur kami. (gaw)
angkot1


Panggilan Sayang

April 14, 2009

Oleh Bayu Gawtama

maduAda seorang sahabat saya yang memanggil isterinya dengan sapaan, “cinta…” Jika ia bicara melalui telepon dengan isterinya, nadanya sangat mesra dan sesekali terdengar kata, “cin…”. Jadi, “cin…” itu penggalan dari kata “cinta”, aiih, terdengarnya bahagia sekali isterinya itu setiap hari selalu disapa mesra dengan kata “cinta”. Siapapun orang yang mendengarnya, tak peduli lagi nama asli perempuan yang berbahagia itu; Ngatini, Juminten, Salbiah, Kasiyem, atau siapapun, nama indahnya adalah “cinta”.

Sahabat lainnya, menyebut pasangannya dengan “cantik”, kalau sudah mendengar langsung ia menyapa isterinya, “cantik abang”, -coba bayangkan, ia menyapa isterinya dengan dua kata itu dengan logat asli melayu- duh duh duh, serasa bergetar langit mau runtuh. Kuat sekali hati lembut si cantik itu setiap saat mendapat sapaan yang menggetarkan, dan hatinya tak juga runtuh. Padahal, seperti saya bilang, langit saja terasa bergetar ketika saya yang mendengarnya.

Sungguh, siapapun perempuan itu, benar-benar cantik, lumayan cantik, agak cantik atau bahkan tidak bisa dibilang cantik sekalipun, akan berbunga-bunga hatinya jika kekasih hatinya, belahan jiwanya menyapanya dengan kata “cantik”. Ia akan merasa menjadi perempuan paling cantik sedunia sepanjang sapaan itu terus meluncur deras dari lidah suaminya. Cinderella, puteri salju, dan semua pemenang kontes puteri kecantikan di manapun di dunia ini seolah tak mampu menandingi kecantikannya.

Ada lagi lelaki yang bertipe penyayang, sapaan kepada isterinya pun “say”, “yank” atau “ayank”. Sama dengan si “cinta” dan si “cantik”, lelaki penyayang ini sampai-sampai menulis nama isterinya di buku telepon selulernya dengan kata “say”, “ayank”, “sayangku”, “my dear”, “babes” dan lain sebagainya. Tak hanya itu, nada dering untuk si “ayank” ini pun dibuat khusus, bisa lagu-lagu kesayangan isterinya, atau lagu yang menjadi lagu kenangan mereka berdua. Wallpaper teleponnya juga disesaki oleh foto sang isteri. Di dalamnya, terdapat puluhan foto-foto tercantik sang isteri hasil bidikannya sendiri.

Lelaki tipikal pelindung, menyapa isterinya dengan panggilan “adik”, dan seraya menyebut dirinya “abang” kepada isterinya. Cinta dan sayang itu, konon melahirkan rasa pengorbanan. Salah satu bentuk pengorbanan sang pecinta adalah senantiasa melindungi orang yang dicintainya. Perempuan manapun yang terus menerus disapa “adik” oleh kekasihnya, akan merasa aman, nyaman dan terlindungi. Tak peduli si “abang” kurus kerempeng, namun ia sangat yakin si kerempeng itu akan berani menggasak preman bertubuh kekar dan berotot yang mencoba mengganggu perempuan terkasihnya.

Yang agak lazim terdengar dari kebanyakan pasangan suami isteri, terlebih yang sudah punya anak adalah membahasakan panggilan kepada pasangan seperti sang anak memanggil ibu atau ayahnya. Memang terdengar agak lucu, seorang suami memanggil isterinya “bunda”, “ummi” atau “Ibu”. Panggilan itu cukup pas bila ia melakukannya di depan anaknya atau untuk mengarahkan kepada anaknya, misalnya, “Nanda dipanggil bunda tuh…”. Tetapi kadang, tidak ada si buah hati pun panggilan “bunda” itu tetap dipakai para suami untuk menyapa isterinya. Begitu pun sebaliknya, si bunda memanggilnya suaminya “Ayah”.

Tenang, apapun itu panggilannya, sepanjang masih indah terdengar tentu tidak masalah. Say, cin, cantik, adik, atau bunda, tetaplah panggilan-panggilan sayang yang membuat perempuan mana pun merasa tersanjung dan hatinya dipenuhi bunga. Karena ada pula di sekitar kita para suami atau isteri yang memanggil pasangannya dengan sapaan yang rasanya tidak sedap didengar, tidak ada nilai estetikanya sama sekali, bahkan tidak menjunjung tinggi kenyataan hati yang senang dipuji.

Coba simak, ada seorang suami yang memanggil isterinya “…sek” lantaran hidung si isteri memang tidak bisa dibilang mancung. Ada isteri yang disapa, “ting” karena rambutnya keriting, dan… ada pula perempuan-perempuan yang dipanggil suaminya, “ndut” atau “mbot”, karena bobot tubuhnya yang melebihi ukuran standar. Bayangkan lagi ada suami atau isteri yang saling memanggil pasangannya dengan nama lahir, atau lebih buruk lagi dengan sebutan “kamu” dan “elu”.

Jujur, saya tidak pernah melakukan survei atau bertanya langsung kepada para isteri yang mendapat julukan “sek, ting, ndut dan mbot” itu. Tetapi toh hati manusia itu sama, bahwa salah satu sifat dasar manusia adalah merasa dirinya istimewa. Panggilan atau sapaan yang indah adalah bagian dari wujud mengistimewakan seseorang, terlebih itu isteri atau suami sendiri.

Walau ada juga para isteri yang tidak keberatan dipanggil “sek, ndut, ting dan mbot”, saya juga tidak pernah terbayangkan kalau –maaf- misalnya isterinya bertangan sebelah, apa mungkin dipanggil “tung”, maksudnya si buntung. Atau suaminya hanya memiliki satu kaki, relakah ia bila isterinya memanggil, “… cang” untuk si pincang. Mari kita bayangkan perasaan Aisyah isteri Rasulullah yang mendapat sapaan “humairah” si pipi kemerah-merahan.

Saya pernah bertanya kepada seorang sahabat yang kerap disapa “handsome” oleh isterinya. Meskipun saya tahu betul bahwa sebetulnya ia tidak betul-betul “handsome”, tetapi panggilan itu berpengaruh besar kepada dirinya. Dia bilang, “siapapun manusia perlu dihargai, dan penghargaan tertinggi yang pernah saya dapatkan seumur hidup adalah cara dia menyapa saya”.

Jadi, apa panggilan sayang untuk pasangan Anda? (gaw)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.